Jumat, 07 Maret 2008

Kolom BYAR

Cerutu & Celana (1)

Foto itu masih saya ingat hingga kini: seorang penguasa yang sedang menghadapi gemuruh demonstrasi rakyatnya tampak menggigit ujung cerutu ketika menerima laporan dari salah satu pembantunya. Wajahnya garang. Tentu amarah sedang membuncah, dan belum tahu akan mengetukkan palu dengan cara apa: menyerah atau perang ! Foto itu beredar di sejumlah media pada 19 Mei 1998.
Dua hari kemudian Soeharto memang lengser. Tapi, agaknya, itulah potret ketika “Sang Raja” sedang berada dalam masa puncak menghadapi tantangan. Meski, kenyataannya, jarak ketika seorang dalam posisi “on” dan “off” teramat pendek. Benar pula kata orang arif: bahwa sebelum mengakhiri nyala terakhir sebuah lentera akan berkobar-kobar sebentar. Amsal lain: seorang yang sedang orgasme tentu akan menggebu-neggebu, sebelum akhirnya lemas-lunglai. Agaknya, waktu itu Soeharto tak sedang "orgasme". Ia lebih mendekati amsal yang pertama. Dan itulah tafsir dari foto tersebut: ekspresi dari nyala yang berkobar-kobar sebelum akhirnya padam.
Disamping itu, barangkali bisa diajukan tesis yang lain: bahwa cerutu telah menjadi alat pelampias dari (beberapa kemungkinan rasa berikut): kalap, gundah, marah, … Konon, kita sering juga disuguhi adegan ini: orang yang mendapat tekanan berat (stres), berulang kali mematikan cerutunya dan menyulut yang baru untuk secepat mungkin ia matikan lagi. Begitu seterusnya, berulang-ulang. Di sini, cerutu bukan karib yang baik untuk dinikmati kelezatannya atau bersama-sama si penghisap “menikmati ngehnya suasana”. Cerutu tinggal obyek penderita.
Jika seluruh manusia penghuni planet bumi ini mengalami hal serupa tentu yang paling untung adalah pabrik rokok. Sebab ia akan mengalami peningkatan penjualan secara drastis. Bayangkan, jika dalam kondisi biasa seorang perlu sehari untuk menghabiskan satu sampai dua bungkus rokok, dalam kondisi stres (kalap), ia cuma perlu satu atau dua jam. Dan, selain tak baik bagi kesehatan (fisik manusia), juga bisa memunculkan peresaingan usaha yang tidak adil.
Barangkali, ya barangkali, karena tak bersetuju dengan dampak yang ditimbulkan dari kasus “cerutu sebagai alat pelampias”, maka bebberapa tahun kemudian seorang nomor satu di sebuah republik memilih celana sebagai “alat pelampias”. Benarkah? Apa maksudnya? (Bersambung)
Sumber: Buletin Sastra LONTAR, edisi 16/Tahun II/2008

Sabtu, 01 Maret 2008

Kolom BYAR

Gemuyu

Maafkan. Ini adalah catatan yang terlambat Tapi bagaimanapun harus saya tuliskan. Sebab, semasa hidupnya ia selalu membuat wong cilik gemuyu –meski ia bukanlah pelawak. Ya, Ki Hadi Sugito, dalang kebanggaan warga Kulonprogo yang wafat Januari lalu itu, kiranya tiada duanya dalam hal membuat penonton “gemuyu” –kata ini kurang tepat benar jika disepadankan dengan tertawa. Tertawa hanyalah salah satu aspek saja dari gemuyu. Dan Pak Gito mampu membuat orang tertawa justru karena ia tidak berniat menjadi pelawak. Lalu, apa rahasianya?
Tampaknya lagi-lagi ini soal jarak. Ketika mendalang, Pak Gito tak membuat jarak: baik dengan penonton maupun kru (wiyogo-nya). Penonton dan kru, yang notabene “orang luar cerita”, ia anggap sebagai “satu kesatuan” dari cerita yang ia bangun. Alhasil, lakon yang disuguhkan pun menjadi mengalir lancar dan enak diterima audiens. Dialog antar tokoh wayang pun bisa berloncatan. Kesana-kemari (seakan) tanpa merusak pakem. Seorang Abimanyu bisa pekoleh bersinggungan dengan kentut. Apalagi Punakawan, bebas bicara dari A sampai Z. Padahal, dibanding dalang segenerasinya, Pak Gito lebih “carangan”. Meski jika dibanding dalang masa kini semacam Ki Enthus Susmono dan Warseno Slank, Pak Gito lebih konservatif. Carangan, bagi Pak Gito, kiranya lebih pada “penceritaan”, dan bukan tampilan fisik.
Tentu Pak Gito bukan satu-satunya pemilik teknik ini. Di bidang lain, misalnya, kita pernah mengenal obrolan Pak Besut di RRI. Di dunia tulis menulis, kita ingat kolom Umar Kayam dengan ikonya yang sempat populer: Pak Ageng, Mister Rigen, dll. Di dunia entertainmen kontemporer, banyak yang punya teknik tak hendak berjarak dengan penonton. Talkshow “empat mata” dari Thukul, juga demikian. Semua itu intinya ingin megajak “orang luar” untuk masuk menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita yang disuguhkan.
Tapi, hemat saya, Pak Gito lebih berhasil membawa masuk orang luar itu daripada contoh pencerita (penghibur) lainnya. Apa karena ia sukses memangkas jarak tak hanya tatkala tampil di panggung, namun juga dalam kehidupan sehari-hari? Atau karena wayang memang media yang paling pas digunakan untuk membuat orang gemuyu? Entahlah. Yang jelas dengan meninggalnya Pak Gito kita kian kehilangan stok orang yang bisa mengajak wong cilik gemuyu, tertawa, senang dan bahagia. Yang kita saksikan kini justru banyak orang yang senang mengajak untuk menertawakan kesusahan orang. Seperti kata Thukul: SMS, senang melihat orang lain susah.***
Sumber: Buletin Sastra LONTAR Edisi 15/Thn.II/2008

Minggu, 03 Februari 2008

Kolom BYAR

Warna

Dulu saya sering berpikiran (mungkin ini sebentuk kecengengan) begini: dua warna yang sama ketika digabung menjadi satu tak kan menimbulkan warna lain. Misal: warna putih dibaurkan dengan putih, hasilnya tentu juga putih. Sementara dua warna yang berbeda, jika dicampur, akan menghasilkan warna yang sama sekali lain: warna biru dan kuning, kalau kita oplos maka hasilnya hijau. Menurut guru gambar saya, fenomena oplos warna ini tak hanya berlaku di dunia lukis, tapi juga pada kehidupan sehari-hari.
Awalnya, mungkin karena kecengengan pula, saya memercayai “hukum” ini. Namun kini, seiring bertubi-tubinya peristiwa yang datang menghunjam tak sesuai kaidah oplosan warna tersebut, saya berani berkata non-sens pada apa yang dikatakan guru gambar saya. “Ah teori”, kata sepenggal iklan yang dulu sempat kondang. Persoalannya tentu tak terletak pada “menerima” atau “menolak” hukum tersebut. Tapi, mengapa hal demikian bisa terjadi?
Konon, Romeo dan Juliet –juga kisah asmara lain yang menggetarkan-- berangkat dari rasa (warna) yang sama: cinta. Namun, alih-alih mereka bisa membangun mahligai, justru yang mereka temui adalah akhir yang tragis? Pada kehidupan kenegaraan: tak ada satu partai politik pun yang punya asas dan landasan perjuangan bersifat “nista”, namun mengapa pentas politik selalu tak jauh dari main kayu dan praktik dagang sapi? Dan contoh yang sulit kita tampik: sejumlah aliran keagamaan sama-sama ingin mempergelarkan tatanan kehidupan berdasar firman Tuhan, tapi mengapa yang terjadi adalah saling menghunus pedang?
Dalam koteks ini, saya tak hendak memberi argumentasi: bahwa gagalnya mereka membaurkan warna yang sama karena mereka baru berangkat pada tataran konsep (akan warna) yang sama, tapi miskin bahkan nol dalam praktik. Agaknya, radikalisme logika mesti kita arahkan pada: bahwa diantara mereka yang hendak “menyatu” membawa warna yang sama tadi terbentang jarak. Dan jarak adalah “warna” itu sendiri. Perjuangan menempuh jarak adalah pergulatan merangkai warna kehidupan. Semakin jauh dan intens seseorang menempuh, mengolah dan menggauli jarak (di sini jarak tidak mesti diukur dengan parameter fisik seperti kilometer dsb), kian berwarna pula kehidupannya. Dan ketika kehidupan seseorang makin berwarna, bukan tidak mungkin ia bisa mencapai pada kesimpulan: bahwa sejatinya warna-warni itu hanya pantulan dari Yang Maha Cahaya.
Daun itu sejatinya tak berwarna hijau, ia hanya memantulkan Cahaya Hijaunya Tuhan. Sementara Cahaya Kuning Tuhan, dipantulkanlah oleh kenanga. Dan seterusnya. Demikian pesan orang bijak. Pertanyaannya: warna buram kehidupan ini pantulan dari mana? Ya, bagi insan yang taat, ia tak berjarak dengan Tuhan. Tapi bagi yang ingkar, jarak-jarak yang mereka ciptakan membuat warna kehidupan terasa berat untuk dibelai dengan kasih sayang.***
SUMBER: Buletin Sastra Lontar Edisi 14/Tahun II/2008

Selasa, 01 Januari 2008

BYAR

Nggetih ....

Setelah karyanya dimuat majalah Mimbar Indonesia dan Sastra (H.B. Jassin), ia memutuskan untuk “hidup-mati” dari menulis. Itulah Hadjid Hamzah, salah satu sastrawan low-profile Yogya yang wafat tengah malam 9 Desember 2007.
Apa yang istimewa dari Pak Hadjid? Sejumlah karya yang dihasilkan, tak ada yang membuat gempar publik sastra. Bahkan, orang awam lebih mengenalnya sebagai Hendrasmara: penulis beragam tema –dari soal tinju, kisah (skandal) para diva sampai masalah humaniora. Agaknya, keistimewaan Pak Hadjid tak mudah dikenali. Tapi begitu kita menghampiri…..
Ia adalah pribadi yang hangat, santun dan care. Ya, Pak Hadjid adalah sosok yang peduli –-peduli pada penulis yang memandang penting sharing dan tegur sapa. Sebagai pribadi maupun redaktur sastra di Minggu Pagi (MP), ia “merasa bertanggung-jawab” atas nasib seorang penulis dan dunia sastra. Sehingga, ketika hendak meloloskan sebuah karya untuk dimuat di MP, ia tak hanya melihat materi (untuk disajikan pada pembaca), tapi juga punya misi “memelihara dan membakar elan vital penulis”. Dan, Pak Hadjid mampu mensinergikan dua standar tersebut secara apik: tak mengorbankan pembaca sekaligus mampu melahirkan penulis muda. Dari sisi ini, sulit kiranya mencari pengganti redaktur (sastra) seperti Pak Hadjid.
Sebagai “orang tua” bagi sejumlah penulis di Yogya, Pak Hadjid memang bisa bersikap bijaksana. Ia sama sekali tidak mengindap penyakit khas seorang redaktur: merasa bangga jika rubrik yang diasuhnya sulit ditembus. Namun ia juga jauh dari sikap memanjakan anak-anaknya. Pak Hadjid pernah tidak memuat tulisan saya setahun penuh, padahal sejak tulisan sastra saya dimuat di MP tahun 2002, hingga kini saya terus mengirim rata-rata dua tulisan perbulan. Pada suatu siang di bulan September 2006, di kantor MP, Pak Hadjid pernah berkata pada saya: “Sebagai penulis, sepertinya kamu kurang prihatin….”
Seminggu sebelum wafat, ketika saya sowan bersama sejumlah penulis dari Lumbung Aksara (LA) maupun Sangsisaku, ia sempat memberi cambuk yang terakhir: “Jadi penulis itu yang total, sampai berdarah-darah atau nggetih…..” Saya selalu teringat pesan itu sambil membayangkan bunyi mesin ketik manual yang hingga akhir hayatnya masih sering ia pakai. Bunyi mesin ketik itu: tak…tik…tak…tik…tak…tik…. –bagai suara tetes darah yang mengiringi setiap kelahiran karya-karyanya.
Ayah, darahmu akan kami lanjutkan……..
sumber: buletin sastra Lontar edisi 13/tahun II/2008

STOP PRESS !!!

Dongkrak Potensi Sastra Tiga Kota
-Cinta Kesusastraan Jawa karena Memiliki Gereget Rasa
Kompas (hlm: Yogya-Jateng, 14 Januari 2008)

Yogyakarta. Kompas - Potensi sastra di Kabupaten Kulon Progo, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Purworejo cukup besar, tetapi masih belum tergali. Seniman dari tiga kota tersebut berkumpul dan menerbitkan antologi puisi, geguritan, dan cerpen pada Minggu (13/1) di Kulon Progo.
Diharapkan pertemuan sastrawan serupa akan rutin digelar untuk mendongkrak potensi sastra yang ada. Dalam kegiatan bertajuk "Temu Sastra Tiga Kota" tersebut, para sastrawan tidak sekadar bertemu, tetapi juga saling menampilkan karya. Temu ini diharapkan bisa menjadi awal yang baik untuk saling berinteraksi. Kulon Progo juga bisa berperan sebagai penghubung antara kebudayaan adiluhung yang berasal dari Keraton Yogyakarta dan budaya rakyat yang berkembang di Purworejo.
"Baru kali ini kami menggelar pertemuan antarpenulis. Kami berkomitmen untuk terus mewadahi ide serta kreativitas para sastrawan," ujar Koordinator Komunitas Lumbung Aksara Marwanto yang turut menggagas acara tersebut bersama Komunitas Sanggar Seni Kulon Progo.
Kebangkitan
Kebangkitan sastra diharapkan bisa dimulai dari pertemuan tersebut. Apalagi, penulis yang hadir tidak hanya dari kalangan anak muda, tetapi juga dari generasi tua. Selama ini hanya sedikit dari penulis Indonesia yang terus menghasilkan karya sastra hingga usia senja. Mayoritas penyair senior kini tidak begitu aktif berkarya maupun menjalin interaksi kesusastraan dengan penyair dari kota lain.
Padahal, pada era 1980-an, menurut sesepuh penyair Kulon Progo, Ki Soegiyono, para penyair Kulon Progo telah mampu menjalin komunikasi yang erat dengan penyair Purworejo maupun Yogyakarta. Saat ini penulis muda Kulon Progo yang masih aktif cenderung hanya menjalin interaksi ke Yogyakarta. Penulis Kulon Progo lebih memilih memublikasikan karyanya di media Yogyakarta, sedangkan penulis Purworejo menyukai media Jawa Tengah.
"Karya tulis harus punya fungsi rekreasi, apresiasi, edukasi, dan apresiasi. Kali ini kami berupaya agar edukasi minat menulis bisa diteruskan ke generasi muda," ujar Soegiyono.
Beberapa penulis senior, seperti Hersri Setiawan, Soekoso DM, Hasta Indriyana, dan Koh Hwatt, menyumbangkan karya pada antologi tersebut. Koh Hwatt, misalnya, membacakan geguritan bertajuk "Basa Jawa". "Saya mencintai sastra Jawa karena memiliki gereget rasa. Selain itu, ada tata krama yang mencerminkan kebudayaan Jawa," tuturnya. Halaman K Foto 1 Kompas/Mawar Kusuma Seniman dari tiga kota, Purworejo, Kulon Progo, dan Yogyakarta, berkumpul dan masing-masing membacakan karyanya, Minggu (13/1), di Kulon Progo. Diharapkan pertemuan sastrawan serupa akan rutin digelar untuk mendongkrak potensi sastra yang ada.

STOP PRESS !!!

Hari Ini di Gedung PC NU Kulonprogo;
Pertemuan Besar Sastrawan Tiga Kota
( Kedaulatan Rakyat, 13/01/2008 )
KULONPROGO tak mau kalah dengan daerah lainnya di Yogyakarta yang getol menggelar kegiatan dunia seni, khususnya sastra. Seolah ingin membuktikan bahwa di Kulonprogo seni dan seniman masih tetap 'hidup' maka pada hari Minggu ini (13/1) bertempat di Gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Jl Purworejo Km 1 Wates, akan digelar pertemuan besar penyair, cerpenis dan sastrawan yang berasal dari Yogya, Kulonprogo dan Purworejo. Bukan bidang sastra saja yang akan dihadirkan, tapi ada kegiatan eksperimen musik oleh Joko Mursito. Hajatan seharian penuh akan berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 19.00. "90 persen siap hadir," kata Marwanto, panitia yang juga Koordinator Lumbung Aksara, Jumat (11/1). Dikatakan , kegiatan 'Temu Sastra Tiga Kota' menghadirkan berbagai bentuk acara mulai diskusi, pembacaan puisi, pembacaan geguritan alias puisi Jawa, pembacaan cerpen oleh Joni Ariadinata, St Suryani, Teguh Winarsho AS, Evi Idawati. Selain membaca juga sekaligus menjadi pembicara diskusi tentang 'Pengalaman Penulisan Kreatif' dan 'Membangun Jaringan Sastra' dengan moderator Dhanu Priyo Prabowo, Samsul Maarif. "Bagi penyair dan cerpenis diberi kesempatan berpartisipasi. Khususnya penyair diberi kesempatan membaca puisi karyanya sendiri, maksimal 2 puisi/geguritan. Kalau puisi/geguritan panjang cukup 1 puisi," ujarnya. Sampai menjelang pelaksanaan, puluhan penyair dan cerpenis, pengamat sastra, atau siapapun yang peduli kegiatan sastra sudah banyak yang menyatakan untuk hadir. Dari Kulonprogo tercatat 54 peserta, Yogya 18 peserta, Purworejo 10 peserta, serta tamu undangan pejabat. Marwanto menyebut kegiatan ini untuk membangun silaturahmi antarpenulis, sastrawan muda, baik penyair maupun cerpenis. "Selama ini kebanyakan melakukan tegur sapa budaya lewat tulisan, tapi secara langsung masih sangat jarang dilakukan," ucap alumnus UNS. Selain itu, membangun jaringan sastra dari 3 kota, Kulonprogo, Yogya dan Purworejo. "Meski Kulonprogo termasuk Yogya, secara karakter karya-karya yang dihadirkan berbeda.. (Jay)-k

Rabu, 06 Juni 2007

Tentang MARKBYAR

Kata “MARKBYAR” terinspirasi oleh cerita tiga mahasiswa yang mencari tempat pondokan atau kos-kosan. Mereka adalah A(gus), B(udi) dan C(ahyono). Ketiga mahasiswa tadi menghadap Pak D(edi), pemilik kos “Wisma Terang”. Beda dengan tempat kos lainnya, Pak Dedi membuat aturan khusus bagi mahasiswa yang ingin mondok di situ. Aturan itu ialah: setiap mahasiswa yang mau indekos harus mampu menjawab pertanyaan Pak Dedi.
Maka, tiga mahasiswa tadi ditanya satu persatu, dengan pertanyaan yang sama. Maju pertama menghadap adalah Agus (mahasiswa baru dari Jakarta).
“Hai Mas Agus, apa yang pertama kali akan kamu lakukan begitu masuk kamar kos di rumah ini ?”, tanya Pak Dedi.
“Saya akan membuat tempat untuk menyimpan uang yang aman, terlindung dari pencurian. Sebab, bagi saya uang itu segalanya. Bayar SPP, beli buku, nraktir pacar, beli pulsa dan lainya sampai bayar kos dengan apa kalau tidak dengan uang?”
Ah, dasar orang kota metropolitan, pikirannya cuma uang melulu, batin Pak Dedi. “Saya harap Mas Agus mencari kos lain saja. Sepertinya sampean tidak cocok di rumah saya.” Pak Dedi membukakan pintu menyilahkan Agus berlalu.
Lalu menghadaplah Budi. Pak Dedi pun mengajukan pertanyaan yang sama.
“Hai Mas Budi, apa yang pertama kali akan kamu lakukan begitu masuk kamar kos di rumah ini ?”
Budi berpikir sejenak. Mahasiswa baru asal kota Yogyakarta yang berkaca mata tebal itu tentu saja tak ingin mengalami nasib sial seperti yang dialami Agus. Setelah beberapa menit berpikir, ia dengan optimis memberi jawaban.
“Saya akan mengisi kamar dengan banyak buku. Kalau perlu, sebagian besar ruangan dalam kamar itu akan saya penuhi dengan benda yang bernama buku. Sebab, buku itu gudangnya ilmu. Jadi, dunia mahasiswa itu identik dengan dunia buku. Mahasiswa tanpa buku, omong kosong namanya.”
Kali ini Pak Dedi tersenyum. Tapi senyum kecut. Ah dasar orang Yogya, mentang-mentang di sana gudangya penerbit, buku kau handalkan. “Mas Budi yang baik, saya kagum atas optimisme jawaban sampean. Namun, sepertinya sampean juga harus menyusul Agus untuk mencari kos lain. Terima kasih telah datang di rumah saya.”
Budi keluar dengan wajah lesu. Kemudian Pak Dedi memanggil Cahyono. Calon mahasiswa dari salah satu desa di pedalaman Indonesia (yang letak wilayahnya mungkin tak tergambar di peta) itu agak grogi begitu namanya dipanggil. Kembali pertanyaan serupa dilontarkan Pak Dedi.
“Mas Cahyono, apa yang pertama kali akan kamu lakukan begitu masuk kamar kos di rumah ini ?”
Kening Cahyono berkerut, tanda berpikir, agar tak mengalami nasib serupa dua temannya. Setelah beberapa saat ia menjawab pelan, tapi mantab: “Saya akan membersihkan kamar lalu menyalakan lampu”. (BERSAMBUNG)

Kolom BYAR

Tulisan ini diambilkan dari rubrik BYAR di buletin sastra Lontar

Tergoda

Tak banyak orang seperti Joaquim Chissano. Setelah berkuasa selama 18 tahun (1986-2004) di Mozambik, ia memilih lengser. Padahal, Konstitusi negara itu masih memberinya hak untuk mencalonkan diri. Tapi, menurutnya, “demi perkembangan demokrasi saya tidak mencalonkan diri lagi…..”
Tentu masa depan demokrasi tak hanya membutuhkan hadirnya “orang yang mau mengalah” an sich. Tapi sebuah sikap: mampu menjaga jarak dengan kekuasaan dan menjamin berlangsungnya regenerasi kepemimpinan secara fair. Dan Chissano telah memberi tauladan yang baik tentang dua hal itu. Ya, karena saat ia berkuasa, Mozambik tengah dilanda perang saudara. Dan ketika ia lengser, negeri itu dipandang telah makmur, demokratis dan damai. Ibarat orang mendorong mobil mogok, Chissano tak ikut naik apalagi sampai terlena menikmati laju mobil. Ia menyilahkan generasi berikutnya untuk mengemudikan mobil yang telah lempang berjalan. Menakjubkan dan mengharukan !
Chissano juga menggugurkan asumsi sementara teori, bahwa di negera berkembang sulit muncul “negarawan”. Langkanya sikap kenegarawanan dari para politisi di negara berkembang inilah yang acapkali menyebabkan suksesi mesti disertai percik darah. Dan itu tak terjadi di Mozambik dibawah kepemimpinan Chissano. Padahal dibanding Indonesia, Mozambik ibarat “anak kemarin sore”. Negeri hitam itu baru merdeka pada 25 Juni 1975.
Alhasil, sikap kenegarawanan tak mesti berbanding lurus dengan usia dan kultur negara. Amerika, bangsa modern yang mendaku pelopor demokrasi, sejatinya telah berulangkali (bahkan secara telanjang) menciderai demokrasi –dibawah kepemimpinan seorang presiden yang tidak saja gagal sebagai negarawan, tapi juga bodoh. Sementara di “negeri katrok”, muncul seorang Cissano: lelaki kelahiran Desa Malehice (Provinsi Gaza), 22 Oktober 1939 itu adalah pribadi yang unik (bisa berbicara, menghargai dan duduk bersama oposisi di meja perundingan ) dan amsal seorang “negarawan yang khusnul khatimah”: mengakhiri kekuasaan dengan elegan.
Siapapun tentu ingin mengakhiri kekuasaan dengan elegan. Persoalannya, seperti juga harta dan wanita, tahta memang selalu menggoda. Dan umumnya kita lebih memilih untuk tergoda.***
SUMBER: buletin sastra LONTAR edisi 12/Th.I/November 2007


Orang Suci

Pasca bulan Ramadhan, diam-diam, banyak orang mendaku sebagai “orang suci”. Kembali ke fitrah atau fitri. Bagai bayi merah yang baru lahir. Tak punya dosa, tak ada noda. Dari pendakuan inilah, orang lalu sering berperilaku ekstra hati-hati tatkala menjalin relasi sosial: aja cerak-cerak kebo gupak ! Memang demikian juga anjuran agama. Seperti tersurat dalam salah satu bait tembang yang diadaptasi Kiai Bisri Mustofa dari Sayidina Ali bin Abi Thalib yang kemudian dipopulerkan Emha Ainun Nadjib: wong kang shaleh kumpulana.
Barangkali ada yang alpa kita telisik: bahwa demarkasi antara mereka yang mendeklarasikan diri sebagai “orang suci” dan yang terlanjur dicap sebagai kebo gupak tadi telah sedemikian kokoh sehingga memisahkan mereka seolah-olah tak lagi sebagai hamba yang kedudukannya sekedar debu di sisi-Nya. Ada semacam kasta, yang kontra produktif bagi jalinan kemanusiaan, mulai ditegakkan di sini: kita orang suci dan alim, mereka berlumur dosa dan najis –mereka “harus” terpisah atau satu pihak mesti memisahkan diri.
Menurut Daniel H. Ludlow, dalam Encyclopedia of Mormonism, dalam bahasa Yunani kata suci berarti: "menetapkan, memisahkan, dan kudus”. Apakah maksud “memisahkan” di sini sebanding dengan demarkasi yang kokoh dan kontraproduktif terhadap jalaninan kemanusiaan tadi? Hemat saya tidak. Namun lebih ke makna memisahkan dari perbuatan tercela. Dus bukan memisahkan dari orangnya. Tapi bahwa kenyataan yang terjadi masih pada memisahkan dari orangnya, adalah sesuatu yang sulit kita tampik. Minimal hati kita acapkali masih berdendang: aku suci dan alim, kamu berlumur dosa dan najis. Lalu yang terjadi mudah ditebak: jarang ada orang yang mau ngedusi kebo gupak.
Tentu masih banyak “orang suci” yang, dalam arti luas, mau nyerak kebo gupak. Ketika terjadi Reformasi di negeri ini pada tahun 1998, “orang suci” itu diantaranya intelektual kampus yang bahu-mambahu bersama rakyat ngedusi kebo gupak (melengserkan penguasa korup). Di Myanmar, sejak 19 September lalu, orang suci (baca: biksu) menggugat kebo gupak berlabel junta militer: sebuah rejim yang konon mengalokasikan uangnya 120 kyat ke tentara, dan hanya 1 kyat ke rakyat.
Memang bukan perkara mudah, bagi orang yang sudah terbiasa memisahkan dari perbuatan tercela kemudian disuruh dekat-dekat dan membersihkan kebo gupak. Mungkin ada bimbang, dan bahkan takut, yang selalu mengintai dan menyerang. Tapi tidakkah kita ingat, bahwa takut dan bimbang adalah musuh pertama dan terbesar bagi manusia ?***
SUMBER: buletin sastra LONTAR edisi 11/Th.I/Oktober 2007

Gelombang Cinta

Sungguh menakjubkan memang, ketika kenikmatan mesti direngkuh dengan laku berpantang. Bayangkan, jika alam membentang ini menyajikan yang serba-boleh saja, barangkali kita akan mengulang “tragedi” yang pernah dialami Eyang Adam.
Mungkin tesis di atas ada yang membantah: bukankah yang kita pertontonkan selama ini lebih tragis daripada sekedar “kilaf” seorang Adam? Padahal, kita tahu, Tuhan telah menetapkan aturan berpantang itu?
Ah, salah sendiri manusia hanya melakoni “periode berpantang” seperti ketika murid-murid sekolah dasar atau bapak-ibu pejabat menghormat Sang Merah-Putih saat upacara Agustusan !
Ramadhan adalah salah satu “periode berpentang”, yang akan naif jika hanya dimaknai layaknya murid sekolah dasar atau para pejabat menghormat sang merah-putih saat upacara bendera. Ramadhan adalah kawah candradimuka yang menuntun manusia ke titik sublim. Sublimasi cinta seorang hamba pada Tuhan.
Dan sublimasi acapkali memang dicapai lewat laku “berpantang”, “mengasingkan diri”, atau yang lebih ekstrem, “menyiksa diri”. Zarathustra, karya monumental Nietzsche, ditulis ketika ia mengasingkan di pegunungan Alph. Novel yang menggetarkan dari Pram ditulis tatkala ia dipenjara. Dan Muhammad, manusia mulia itu, memperoleh pencerahan saat mengasingkan di gua Hira.
Sejumput kisah tersebut seakan menyadarkan kita: bahwa tujuan berpantang tak sekedar mengharap agar ketika “pelampiasan” datang kita merasakan kelezatan. Nikmatnya berpantang (puasa), pertama-tama memang ketika buka tiba (ragawi). Tapi, sejatinya ada kenikmatan (ruhani) yang jauh lebih subtil dari mereka yang berpantang: yakni bersua dengan Tuhan. Ya, karena ketika manusia dalam kondisi tak punya/bisa apa-apa, sejatinya yang ia harapkan hanyalah hadirnya Cahaya. Mirip amsal seorang mahasiswa ketika pertama kali masuk kos dengan membersihkan (mengosongkan) kamar lalu menyalakan lampu.
Kita patut bersyukur dengan adanya Ramadhan. Sebab ia merupakan skenario terindah yang dianugerahkan Tuhan untuk hambanya. Ramadhan laksana gelombang lautan. Siapa yang berani dan lulus menempuhnya, cintanya pada Tuhan (kehadiran Cahaya) kian kuat terpatri dalam diri. Dan Allah telah membuka momentum untuk menempuh gelombang itu minimal setahun sekali. Tentu ada hamba-hamba yang “tak puas” menempuh gelombang atau periode berpantang tersebut dalam jangka waktu setahun sekali. Sehingga tiap bulan, minggu, hari dan bahkan setiap detik, ia sengaja menciptakan gelombang itu dalam dirinya:
Apabila Kau anugerahkan aku rembulan, bisakah kuelus dengan hati lapang / Apabila Kau anugerahkan aku matahari, bisakah kugenggam agar gelap tak menjadi / Apabila Kau anugerahkan aku sederet kata, bisakah kutepis mana yang maya / Apabila Kau anugerahkan aku air mata, bisakah kubuang segala duka lara / Apabila Kau tuntun aku dalam sujud sunyi, semoga hanya Engkau yang mengetuk ini hati, ya Rabbi .***
SUMBER: buletin sastra LONTAR edisi 10/Th.I/September 2007


Bandot

Seperti apa gambaran orang merdeka itu? Ijinkan saya membayangkan Bandot, tokoh dalam salah satu prosa karya Putu Wijaya, yang dapat kita temui dalam kumpulan cerpennya: Protes. Bandot adalah seorang penjahat, yang tatkala dalam penjara punya hasrat menggebu untuk bisa hidup di dunia luar –yang menawarkan kemerdekaan, kebebasan. Benarkah ketika dikeluarkan dari penjara Bandot menikmati kemerdekaan?
Tentu. Namun kemerdekaan yang ia rasakan bukan terutama karena ia telah meninggalkan pengapnya hotel prodeo. Bandot baru merasa betul-betul menikmati kemerdekaan saat ia tak menginginkan apa-apa. Dengan kata lain, kemerdekaan itu sejatinya “ada dalam dirinya” dan bukan karena “lempangnya dunia luar”. Tampaknya Bandot tak sendirian. Orang-orang yang mengabdikan hidupnya dalam pengembaraan sunyi (asketis), sadar benar kemerdekaan itu bermula ketika manusia telah khatam dari segala keinginan.
Tapi tunggu dulu. Jangan salah arti. Khatam dari segala keinginan bukan berarti manusia tak lagi punya kebutuhan. Sebab, kebutuhan adalah konsekuensi dari eksistensi manusia. Makan, pakaian, rumah, pendidikan, adalah kebutuhan. Juga kesehatan, alat transportasi, dan yang lainnya. Nah, ketika kita sudah cukup makan dengan lauk satu tempe tapi berhasrat nambah satu lagi, itu sudah keinginan namanya. Sudah punya rumah bagus dan besar, masih mau yang mewah dan tersebar di beberapa tempat. Sudah menikah dengan isteri cantik atau suami tampan, masih melirik kebun tetangga. Dan seterusnya.
Keinginan adalah sumber penderitaan, kata Iwan Fals dalam sebuah lirik lagunya. Tapi, benarkah hidup harus steril dari “penderitaan”? Ah, rasanya kok tidak. Adam dan Hawa, ketika diturunkan ke bumi, sudah sejak awal berbekal penderitaan. Dan sejarah peradaban manusia itu sendiri tak lain adalah narasi agung tentang penderitaan. Tapi, bukankah dari penderitaan ini kebudayaan manusia digali? Untuk nantinya bisa eksis mengikuti akselerasi zaman? Dari sinilah, bagi segelintir orang, “penderitaan” bisa dijadikan titik tolak – juga pemantik sekaligus – untuk maju. Asal kita punya kemauan untuk keluar dari jebakan penderitaan.
Jadi, biarkanlah diri anda menderita oleh keinginan. Tertindih mimpi-mimpi. Jangan takut dijajah oleh obsesi. Hadapilah dan perjuangkan mimpi dan obsesimu. Sebab, seperti pesan Napoleon Bonaparte, mereka yang takut dijajah tak akan memperoleh kemenangan. Sampai akhirnya anda akan menyadari: trembelane…. betapa dalam mengolah hidup ini amat tipis beda antara keinginan dan kebutuhan. Meski esensi keduanya sangat jauh berjarak.***
SUMBER: buletin sastra LONTAR edisi 09/Th.I/Agustus 2007

Nawm fil 'asal

Istilah nawn fil’asal saya peroleh bulan lalu, ketika seorang teman yang sedang kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo mengirim email. Thoyib Ariffin, teman saya tadi, merasa “tidur di lautan madu” selama 10 tahun tinggal di Mesir. “Dalam gemilang fasilitas, saya tak ubahnya seonggok batu yang bisu”, tulisnya.
Saya tercenung menyimak kata demi kata dalam suratnya. Sebab, sepengetahuan saya, ia bukanlah sosok yang berpangku tangan. Tidak juga larut dalam kenikmatan. Di tengah musim dingin Kairo yang mencincang tubuh kurusnya (ia mengaku sering sakit jika musim dingin tiba), ia masih akan melakukan sederet aktivitas ini: mengaji pada syeikh, menghafal 400an bait syair-syair tugas kuliah, melahap buku-buku tebal di perpustakaan, memandu para senior dari Yogya yang sedang mengerjakan desertasi. Belum tugasnya sebagai penerjemah di penerbit Maghfirah Pustaka –yang sering mencambuknya dengan deadline!
Namun, ia tetap merasa dalam kondisi nawn fil’asal. Apa ia sedang menyindir?
Mungkin tidak. Ini hanyalah bahasa seorang pekerja keras: merasa belum mengerjakan apa-apa padahal sudah banting-tulang. Sebab, kata Voltaire, kerja bisa menghilangkan rasa bosan, sepi dan dosa. Tapi, Thoyib tak sekedar pekerja keras. Ia telah menjadi antitesis dari sikap pragmatisme. Barangkali kita sudah sering mendengar cerita ini: banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir lebih suka mencari uang (terutama kalau musim haji) daripada menuntut ilmu. Dan Thoyib memilih ilmu –dengan segala konsekuensinya.
Kalau orang yang telah memeras keringat menganggap dirinya “tidur”, bagaimana dengan kita? Konon, dalam seminggu kita butuh 2 hari libur. Dan di hari libur seakan “sunat” untuk bangun siang. Lembur jangan sampai larut, sebab angin malam tak baik bagi kesehatan. Jika puasa, jangan lupa makanan suplemen…. Dan perayaan kemanjaan tubuh lainnya, yang memenuhi ribuan halaman jika diuraikan. Di sisi lain, konon kita gemar pula mendengar cerita sukses seseorang.
Diam-diam, ada yang tanggal dari perjalanan karakteristik anak bangsa: kesuksesan dan proses dilihat secara terpisah. Mengingatkan saya pada seorang penulis “kemarin sore” yang baru mengirim satu dua karya –lalu menggerutu karena puisinya tak kunjung dimuat. Ia sih mengaku pengagum Emha Ainun Nadjib. Tapi jelas ia lupa (atau belum tahu), kalau Cak Nun --gara-gara kelaparan-- pernah jatuh pingsan di Malioboro dalam perjalanan kakinya menuju kantor KR dan MP,demi mengirim sepucuk amplop berisi puisi.***
*SUMBER: buletin sastra LONTAR edisi 08/Th.I/Juli 2007


Rahasia

Rahasia itu bagai magma, menyimpan kedahsyatan yang tak terduga. Simak misal puisi Sapardi berikut: tak ada yang lebih tabah/ dari hujan bulan juni/ dirahasiakan rintik rindunya/ kepada pohon berbunga itu. Puisi tersebut menjadi indah, salah satunya, karena sisi kontradiktoris ditampilkan dengan wajah lembut. Sapardi tak serta-merta “menentang” perspektif meteorologi dan geofisika yang melihat bulan Juni sebagai kemarau.
Rindu yang lama tak terlampiaskan, adalah “hujan yang dirahasiakan”. Apa yang terjadi ketika “hujan yang dirahasiakan” tadi satu demi satu terkuak? Sebuah kedahsyatan siap menyapa. Dan apa yang terjadi ketika “hujan yang dirahasiakan” itu tak kunjung turun? Ia menjadi guru terbaik dari ketabahan dan kearifan.
Seorang pemuda yang “merahasiakan” cintanya pada pujaan hatinya bagai seorang ahlus-saum yang tak cepat patah arang. Ia juga akan merawat hubungan cintanya dengan bijak, untuk tidak egois. Seorang yang beramal dengan siri, selain menerima pahala yang dahsyat, juga mengasah ketabahan (menghadapi kesempitan maupun kelapangan) dan sikap bijak (untuk tidak “berteriak” yang bisa berakibat mengurangi pahala maupun menyakiti yang diberi). Demikianlah buah dari rahasia: dahsyat, tabah, dan bijak. Bukankah semua itu positif bagi kehidupan?
Tidak ! Pelanggaran hukum yang dirahasiakan, tidak diusut, adalah gouletin yang siap memenggal leher bangsa ini, kata seorang teman yang di tahun 1998 hampir diculik rezim Orde Baru. Teman tersebut sepenuhnya benar. Tapi benar dari segi hukum, di negeri ini, sering dikacaukan dengan: perbandingan kemanfaatan dan kemudaratan bagi kehidupan bernegara. Maka jangan heran, jika seorang Amien Rais yang semula lantang ingin mengungkap (rahasia) penggunaan dana non-budgeter DKP, tiba-tiba bersikap: dar’ al-mafasid muqqadam ‘ala jalb al-masalih (menghindarkan bahaya lebih diutamakan daripada melaksanakan kewajiban yang baik).
Benar, untuk menghindari polemik antar pemimpin yang bisa kontraproduktif bagi perjalanan bangsa, masalah tersebut mesti dibawa ke (dan diselesaikan lewat) jalur hukum. Namun persoalannya, “bahasa hukum” di negeri ini hanya milik segelintir orang. Apa-apa yang sejatinya terjadi pada proses hukum, sepenuhnya misteri, seutuhnya rahasia. Dalam atmosfir seperti ini, tidakkah Tuan Amien rindu mengulang perjuangan di tahun 1998 ketika menumbangkan Soeharto?
Memang SBY bukanlah Soeharto. Namun maafkan saya (rakyat jelata yang jauh dari Jakarta) kalau akhir-akhir ini sulit membedakan keduanya. Ya, barangkali karena ada sesuatu yang rahasia dibalik sosok mereka. Entahlah, namanya juga rahasia***
Sumber: Buletin sastra LONTAR Edisi 07/Th.I/Juni 2007


Indonesia Lain

Ketika krisis di negeri ini mencapai puncaknya pada Mei 1998, mungkin bangsa ini sedang diharuskan untuk “berwudlu sejenak”: menanggalkan residu pembangunan yang selama tiga dasawarsa lebih ditegakkan rejim Orde Baru. Mengapa bangsa ini harus “wudlu”?
Ya, karena bangsa ini telah “batal” menjalani hidup. Ada pelanggaran terhadap aturan kehidupan bernegara, baik tak disengaja maupun jsutru diciptakan oleh segelintir orang yang berkuasa. Karena itu, selain membasuh habis segala kotoran, laku “wudlu” tadi mesti dibarengi dan diteruskan dengan penataan kembali sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Itu sama dengan anjuran bijak: jika usai wudlu segeralah “mendirikan shalat”.
Persoalan muncul ketika elemen bangsa ini sibuk mendebatkan “tata cara mendirikan shalat” dan saling berebut “menjadi imam”. Di sini kepentingan mulai bicara. Sebab, di negeri ini, atau ini memang watak khas politik: siapa yang menjadi imam identik yang berhak menentukan berapa raka’at kita menjalankan shalat. Aturan mendirikan shalat lebih ditentukan oleh syahwat kuasa, bukan oleh akal sehat dan kebeningan nurani.
Maka, ditengah-tengah debat panjang kita tentang bagaimana mendirikan shalat (:membangkitkan bangsa ini) diam-diam kita mulai menyusun strategi agar jika nanti melakukan kesalahan tidak termasuk dalam kategori “batal”. Tapi yang namanya kesalahan, dimanapun akan ketahuan juga. Barangkali rakyat sudah lelah, sehingga tak ada itu people power yang mendesakkan bangsa ini untuk berwudlu kembali. Tapi, tidakkah kita sadar bahwa deretan panjang bencana yang datang bagai arisan di negeri ini menunjukkan bahwa bangsa ini telah batal dari wudlunya sembilan tahun lampau?
Kita belum sempat mendirikan shalat, tapi telah batal. Kita belum lagi bangkit, namun ditengah-tengah bencana, penderitaaan, dan bangkai-bangkai yang melayang, setiap hari kita rajin menggembosi tegaknya bangsa ini. Apakah riwayat Indonesia akan tamat sampai di sini?
Tidak ! “Bunga yang mekar dari bangkai kematian lebih menantang untuk menggoda….”, kata teman saya Aguk Irawan MN dalam novelnya Kitab Dusta dari Surga. Barangkali kita akan menemukan “Indonesia yang lain”, yang tak pernah kita duga sebelumnya, jika ada kemauan keras untuk melewati ujian ini. Ya, kuncinya tinggal pada kemauan. Dan, jangan lupa, Tuhan amat sayang pada hamba-hamba-Nya yang masih punya kemauan.***
*SUMBER: buletin sastra LONTAR edisi 06/Th.I/Mei 2007


Seribu Tahun Lagi………….

Apakah waktu / seperti yang kita angankan pada jarum jam / seperti yang ditunggu orang tua dan kereta berjalan (Menaksir Waktu, 1996)
Sepeninggal sahabat Zainal Arifin Thoha, teman saya --penyair Abdul Azis Sukarno-- menulis puisi yang bertutur “maut adalah sebuah antrian” (Minggu Pagi, No.01/Th. 60/ April 2007). Mungkin Aziz benar. Atau sedang melihat dari sudut tertentu. Tapi mungkin juga ia alpa: maut (baca: mati) bukanlah sebuah akhir dari hidup. Sebab, hidup dijalani bukan sekedar untuk antri mati.
Semisal orang membaca buku, lembar demi lembar ia baca, bukan sekedar menuju halaman terakhir lalu tamat. Pertanyaannya: ketika buku ditutup, apa ia paham isinya? Ada yang tak paham . Ada yang paham setelah selesai membaca hingga titik akhir. Namun, bagi yang bernaung di lauh al-mahfud, bisa saja paham saat baru menyimak separoh isi buku.
Analogi tersebut mendasari “definisi mati” yang tigabelas tahun lalu saya terima dari seorang pakar filsafat Timur. Terang, ilmu ini mengusik saya --dimanapun berada. Hingga menyeret pada sebuah pertanyaan tentang waktu. Saat itu saya memang belum paham terminologi zeitgeist (roh waktu). Meski begitu, penggalan puisi di atas, jelas mengarah pada terminologi zeitgeist.
Puisi tersebut saya tulis di Tawangmangu pada Ospek Fakultas Ilmu Sosial-Politik UNS Solo, dimana saya terlibat kepanitiaan. Saat menyimak jalannya Ospek itulah, terutama ketika sesama teman senior memberi “wejangan” pada mahasiswa baru, di lubuk hati saya terngiang sebuah tanya: “Apa hak mereka memlonco? Karena lebih senior?
Lamanya waktu tak menjamin seseorang lebih mutu memberi “kesaksian” atas hidup. Si A dan Si B yang penumpang kereta dari Kediri menuju Padalarang belum tentu memiliki kesamaan kualitas “kesaksian”perjalanan. Bisa jadi Si C yang berangkat dari Kediri namun turun di Wates justru lebih berbobot kesaksiannya. Tergantung intensitas mereka menggauli hidup, untuk ditarik ke garis ilahiah, dan memberi dampak pada sesama.
Memang di dalam kematian batas ditancapkan. Namun “batas” tersebut adalah ranah dimana manusia berpeluang memberi kesaksian atas hidup. Dan “kesaksian” (syahid) paling konkret membekas, kata para arifin, ada tiga hal: amal (jariyah), ilmu (manfaat) dan anak (saleh). Itulah kesaksian yang tak kan pernah “mati”.
Maka, sungguh cerdas ketika meninggal pada usia muda Chairil Anwar menulis larik sajak: Aku ingin hidup seribu tahun lagi. Chairil sadar, juga sahabat Zainal dan mereka yang mati muda lainnya: yang hidup bukanlah raganya, namun karya-karyanya --kesaksiannya.***
*SUMBER: buletin sastra LONTAR edisi 05/Th.I/April 2007


Ghaib

Ada baiknya kita ingat Parmin. Ia memang bukan tokoh penting. Tapi di malam itu (sekitar sepuluh tahun lalu), di sebuah wartel yang sesak orang antri ingin menelpon, ia berjuang keras “melawan” kemauan “ruh”-nya.
“Cepat dong, katakan!”
“Emm.... apa harus malam ini..?”
“Ya, harus ….!!!!!!!!!”
Parmin gagal mengucapkan. Juga esok harinya, saat bertemu Siti di kampus. Meski belum mengucapkan, sejatinya ia telah menyatakan sikapnya pada Siti. Dan inilah keyakinan Parmin: cinta itu bukan sederet kata dan rayuan manis, tapi sebuah sikap. Sikap yang dilandasi hubungan intens antar “ruh”. Apakah ruh itu?
Menurut kitab suci, pengetahuan manusia tentang ruh serba terbatas –sedikit. Mungkin bisa ditafsirkan: definisi ruh tak perlu diperdebatkan. Sebab ruh itu urusan Tuhan (Ar-ruhu min amri Rabbi). Cukup manusia menjaga dengan sikap, dengan tindakan, yang merupakan manifestasi dari vibrasi ruh. Dan inilah cinta!
Cinta itu tak ada habisnya jika (hanya) dibicarakan, tapi sungguh sangat simpel bin nikmat jika dilaksanakan. Demikian seloroh seorang teman. Ia tidak salah. Sebab, mendebatkan hubungan antar ruh adalah muskil. Itu wilayah ghaib: domain yang sejatinya “tak tersentuh kata”. Ingat saat Kanjeng Nabi mi’raj? Di “langit kesatu sampai enam” beliau masih bisa berdialog dengan malaikat. Tapi, begitu menghadap Allah di langit ke tujuh (sidratul muntaha), “pertemuannya” tersebut tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Mengobral cinta dengan kata bukanlah tindakan bijak. Kecuali bagi seorang penyair. Itupun tidak untuk tujuan “mendebatkan” cinta, namun untuk menghaluskan rasa. “Alusing rasa bakal ngadohke tumindak dur-angkara”, kata teman kos saya di Solo, tahun 1997. Tapi saya menyanggah: “Bukankah penguasa kita juga berperangai halus, suka ngumbar senyum di hadapan petani pada acara klompencapir, mengapa banyak teman kita demonstran diculik?”
“Halusnya rasa tak (hanya) identik dengan senyum, Dab! Tapi, bertindak sesuai kata hati”, jawab teman tadi. Saya pun tertegun, dan kembali teringat Parmin, yang beberapa waktu lalu ditanya istrinya.
“Mas, katanya sampeyan itu penyair, kok tak bisa romantis…?”
Cukup lama Parmin merenungkan pertanyaan isterinya. Sampai pada suatu kesimpulan: “Dik, mungkin aku ini bukan tipe penyair yang suka tebar pesona………….”
*SUMBER: buletin sastra LONTAR edisi 03/Th.I/Februari 2007


Taman Anggur

Setiap Januari adalah memulai. Tapi, benarkah kita memulai hanya ketika Januari tiba, ketika pagi datang, saat matahari terbit di ufuk Timur?
Pergantian tahun 2006 ke 2007 ditandai peristiwa memilukan. Bencana alam dan kecelakaan. Banjir melanda Aceh dan Sumatera Utara. Sepertinya derita akibat tsunami 2 tahun lalu itu belumlah cukup bagi saudara kita di tanah rencong. Kecelakaan laut dan udara, tak sekedar sebuah kabar duka. Dan bencana lain, dan kecelakaan lain: memaksa kita berkerut kening menelusuri makna.
Dari sini seakan terbersit sebuah pesan: memulai itu tidak dari hal-hal menggembirakan. Setidaknya, ia menyimpan misteri. Memulai adalah sebuah misteri. Meskipun telah berbekal optimisme, lubuk hati kita acapkali masih bertanya: what next? Antara harapan (das sollen) dan kenyataan (das sein), terus bergulat menghantui benak kita. Ada jarak yang misterius antara memulai (awal) dan mengakhiri (akhir).
Ketika di pagi subuh sebelum shalat Idul Adha Saddam Husein menjemput maut di tali gantungan, misteri menyelimuti dirinya --dan rakyat Irak: ini awal ataukah akhir? Mungkin seperti ketika Saddam mulai karir politiknya dengan kudeta atas Jenderal Qassim (1960), lalu mengobarkan revolusi atas Presiden Abdul Rahman (1968), dan melucuti kekuasaan sepupunya, Presiden Ahmad Hassan al-Bakr (1979). Dibalik tekad kuatnya, dan gemuruh pendukungnya, gelar “Singa Babilon” masihlah misteri.
Saddam tak sendirian. Mereka yang akhir November lalu barangkat haji, segulung misteri bersanding bercengkrama dengan keimanannya. Apakah ia membayangkan akan kelaparan hanya karena menejemen katering yang tak becus? Para petani yang menancapkan benihnya, belum tahu akan panen dengan harga gabah tinggi atau dihempas oleh ganasnya tikus dan wereng
Waktu terus membentang menyilahkan dilalui, meski awal dan akhir ada-lah misteri. Saat kita menyobek kalender, mengganti dengan tanggal dan hari baru, tak bisa memastikan itu awal atau akhir.
Maka berbahagialah bagi mereka yang telah berada dalam “maqam matahari”. Ia tak mengenal awal dan akhir. Baginya, awal atau akhir, siang atau malam, selalu “byar”. Ia, memang, masih menggegam msiteri, tapi dalam berkarya ia selalu dalam perspektif “sekarang”. Kesempatan adalah saat ini juga! Tak ada kata besok. Awal akhir adalah dialektika yang terus berkelindan. Ia terus berdendang sebagaimana Muhammad Iqbal : “Kau ciptakan tanah liat, dan aku membuatnya piala. Kau ciptakan gunung, hutan, dan rawa-rawa, lalu kubuat taman anggur.”
Kini, bentangan alam gagal kita sulap menjadi taman anggur. Justru semakin hari bumi ini (seperti judul buku cerkak-nya Akhir Lusono) semakin “ajur”. Dan, bagi siapapun yang hendak membangunnya, ia harus memulai dengan hal-hal yang tak menggembirakan. Beranikah kita berkata: “Siapa takut?!?!”
*SUMBER: buletin sastra LONTAR edisi 02/Th.I/Januari 2007


Optimisme

“Matahari selalu baru, setiap pagi”, demikian Herakleitos, 400 tahun sebe-lum Masehi menggelorakan optimisme. Tapi optimisme Herakleitos bukan tanpa dasar. Ia punya pendirian, punya falsafah: Pantha rhei Khei uden menci.
Dengan falsafah itu ia pantang mengalami kejadian yang sama pada waktu yang berbeda. Sebab, segalanya “mengalir”. Hakekat sesuatu adalah “proses menjadi”. Karena itu, kita harus mampu memberi makna baru terhadap setiap “proses menjadi”. Tanpa itu, kita telah mengigkari fitrah.
Memang matahari yang kita lihat pagi ini, adalah matahari yang kemarin sore tenggelam di ujung cakrawala. Tak ada yang baru, dari sisi matahari -- Ia selalu “byar”. Yang baru adalah peristiwa yang menyertai. Itupun dengan catatan manusia mampu memberi makna. Jika tidak, manusia tak lagi otonom atas alam dan peristiwa yang menyertai. Ia hanya menjadi “mesin” atas peristiwa-peristiwa.
Kita tentu tak ingin eksis sekedar sebagai “mesin”. Karena sebagus-bagus-nya atau secanggih-canggihnya mesin, ia tak berhak menentukan kehendak. Tak berhak memberi makna baru terhadap setiap kejadian, terhadap pergan-tian hari, bulan dan tahun. Tugas kemanusiaan untuk memberi makna baru terhadap setiap kejadian itulah yang menjadi dasar dan mendorong semangat optimisme.
Tentu ada kendala menghadang, banyak kesulitan membelit. Tapi, mungkin kita telah hafal dengan pesan bijak ini: “Si optimis selalu melihat peluang di dalam kesulitan”. Sementara, “Si pesimis selalu melihat kesulitan dam setiap peluang”. Dari pesan bijak itu, satu hal pasti: bahwa “peluang” maupun “kesulitan” itu sama-sama ada. Tinggal bagaimana cara kita melihat dan menyikapi.
Melihat peluang dalam setiap kesulitan akan menjadi energi untuk sebuah perubahan, mendorong kita untuk meraih, aktif, dan berhasil. Sedang, melihat kesulitan dalam setiap peluang, adalah hantu yang menelikung, membuat kita takut, pasif dan gagal. Kita tinggal pilih yang mana?
Setiap pilihan pasti mengandung resiko. Hidup adalah sebuah resiko itu sendiri, kata seorang teman. Dan menurut ilmu psikologi, orang berprestasi (berbakat sukses) bisanya cenderung mengambil resiko yang sedang. Hal ini, pada hemat saya, tak berarti kita mesti bersikap optimisme secara tanggung atau sedang-sedang saja.
Tapi, optimisme yang kenyal. Buat apa terlalu menggelora dan menggebu-nggebu, kalau pada akhirnya (maaf, silahkan membayangkan kalau anda orgasme) lemah-lunglai? Karena itu, setelah mendengar adzan subuh, kita tak boleh langsung lari pagi. Ambil air wudlu lalu sujud. Setelah itu, song-songlah terbit fajar dengan memberi makna baru pada matahari pagi. Selamat Tahun Baru 2007.***
*SUMBER: buletin sastra LONTAR edisi 01/Th.I/Desember 2006

INFO Saja

Diterbitkan Antologi Puisi:
Seorang Gadis, Sesobek Indonesia
YOGYA (KR) - Komunitas Lumbung Aksara bersama LKP2 Nasyita Fatayat NU Kulonprogo menerbitkan antologi puisi berjudul ‘Seorang Gadis, Sesobek Indonesia’. Antologi tersebut akan dikupas di Gubug Pramuka, Jl Perwakilan Wates Kulonprogo, Selasa (19/9) pukul 15.00, menghadirkan narasumber penyair Zaenal Arifin Thoha. Antologi diberi catatan Aguk Irawan MN, penyair yang kini baru studi di Universitas Al Azhar Kairo Mesir.

Marwanto, pimpinan Komunitas Lumbung Aksara mengatakan, antologi ini menghimpun sejumlah karya penyair pemula. “Saya lebih senang menyebut sebagai, antologi penulis pemula karena rata-rata juga baru menulis karya puisi, meski ada pula yang sudah matang dalam kepenyairan,” ucap Marwanto, alumni Fisip UNS Surakarta. Antologi ini memuat karya antara lain, Akhiryati Sundari, Alfanuha Yushida, Aris Zurkhasanah, Dewi Fatimah, Darida Laila Tsani, Fathun Chamana, Ibah Muthiah, Kurnia Widiastuti. Selain itu, memuat karya Umar Maksum, Rohmi Astuti, Siwi Nurdiani, Syamsul Maarif, Tri Wahyuni, Zukruf Latif dan karya Marwanto sendiri.

Bagi Marwanto, awalnya antologi puisi ini dikonsep sebagai wadah bagi penyair Kulonprogo untuk menuangkan karyanya dalam sebuah buku. Selama tiga kali mengumumkan dan mengundang publik Kulonprogo untuk berpartisipasi dalam penerbitan antologi. Namun kalau pada akhirnya para penyair yang masuk dalam antologi ini belum mempresentasikan penyair di Kulonprogo, tentu ini salah satu kekurangan yang justru jadi tantangan untuk menerbitkan antologi yang lebih baik lagi, representatif. “Antologi ini memang masih sangat sederhana, bersifat dokumentatif,” katanya.

Menurut Marwanto, dengan segala kesederhaan dan kekurangan, nantinya bisa belajar tentang bagaimana menulis karya puisi yang baik. “Kami belajar dari kekurangan,” katanya. Selain itu, ruang ekspresi dan gerak sastra di Kulonprogo terasa sempit. Dulu Radio Andalan Muda (RAM), Radio Rosala ada ruang sastra, tetapi kini sudah tak ada lagi. Maka harapannya kini tinggal apresiasi di koran-koran mingguan, serta pertemuan berkala dalam suatu komunitas. “Perjuangan sastra di Kulonprogo memang berat, tetapi itu harus dimulai sebagai kerja nyata membangun apresiasi dan kesadaran pentingnya membaca, menulis karya sastra,” kata ayah 2 anak yang baru menyelesaikan antologi puisi ‘Menaksir Waktu’. (Jay)-o (Sumber Kedaulatan Rakyat 15 September 2006)

Tadarus Puisi Komunitas Lumbung Aksara
YOGYA (KR) - Komunitas Lumbung Aksara Kulonprogo mengadakan acara ‘Tadarus Puisi’ di Wisma Aksara Wahyuharjo Lendah Kulonprogo, Jumat (20/10) pukul 15.00. Acara tersebut selain akan diisi pembacaan puisi oleh anggota komunitas Lumbung Aksara juga diskusi sastra dan ditutup buka puasa bersama. Para penyair yang akan tampil membacakan puisi di antaranya Didik Komaidi, Akhiriyati Sundari, Aris Zur-khasanah, Dewi Fatimah, Fathin Chamama, Siti Masyitoh, Siwi Nurdiani, Tri Wahyuni, Syamsul Ma’arif, dan Zukruf Latif. Mereka ini adalah penyair pemula yang beberapa waktu lalu karya puisinya diterbitkan dalam buku ‘Seorang Gadis, Sesobek Indonesia’ (Antologi Puisi Kulonprogo). Diskusi sastra atau ulas-an terhadap pembacaan puisi menghadirkan narasumber Aguk Irawan MN (penyair yang sedang menempuh studi di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir) yang sejak bulan Ramadan ini pulang ke tanah air.

Koordinator Komunitas Lumbung Aksara, Marwanto mengungkapkan, meski acara tersebut bertajuk ‘Tadarus Puisi’, namun akan dimulai sejak sore. “Ya, kami memang akan mulai acara pukul 15.00. Sebab, bukannya nyombong ya, kalau malam itu teman-teman di Lumbung Aksara banyak yang melakukan tadarus Alquran,” ucapnya.

Mengenai tujuan diselenggarakan acara ‘Tadarus Puisi’, Marwanto mengungkapkan sebagai refleksi para sastrawan di bulan Ramadan. Kita tahu, di bulan suci seperti ini banyak anggota masyarakat melakukan ibadah dan refleksi dengan caranya masing-masing. Inilah bentuk refleksi dan ibadah kami, para sastrawan. “Bagi teman-teman sastrawan, dengan melakukan penghayatan terhadap puisi maka ibadah puasa menjadi semakin meresap di hati. Jadi, tidak cuma ritual menahan lapar dan haus saja”. Selain itu, sudah banyak acara menyambut buka puasa bersama diisi dengan ceramah dan pengajian, sehingga menyambut buka puasa dengan pembacaan puisi diharapkan mendatangkan suasana baru. (Jay)-o (Sumber Kedaulatan Rakyat, 20 Oktober 2006)

Bangsa Beradab Menghargai Sastra
Di negara-negara Barat yang telah maju, kedudukan puisi atau karya sastra sangat dihargai. Bahkan untuk menaikkan gengsi atau martabat, banyak pejabat, para profesional muda atau selebritis di negara maju yang mengutip kalimat-kalaimat dalam sebuah karya sastra saat diwawancarai wartawan. Jadi di sana kemampuan menguasai atau mengenal karya sastra, menunjukkan martabat seseorang.

Hal itu diungkap Joni Ariadinata, sastrawan dan redaktur majalah sastra Horison, saat menjadi pembicara inti ‘Tadarus Puisi’ yang diselenggarakan Komunitas Lumbung Aksara Kulonprogo. Selain orasi budaya dari Joni Ariadinata, acara yang digelar di ‘Wisma Aksara’ Wahyuharjo Lendah Kulonprogo, belum lama ini. Hadir pada acara tersebut penyair Aguk Irawan MN (Yogya), Didik L Hariri (Ngawi), Didik Komaidi (Krapyak), serta penyair muda Kulonprogo seperti Syamsul Maarif, Akhiriyati Sundari, Zukruf Latif, Aris Zurkhasanah, Siwi Nurdiani, Siti Masyitoh, Fathin Chamama, B Prasetyo, Mutiah Al-Adawiah, Dewi Fatimah dan sejumlah santri dari PP An-Nadwah Wates.

Menurut Joni, meski di negeri kita apresiasi atau penghormatan terhadap puisi belum sebanding dengan negara maju, tapi benih ke arah sana sebenarnya sudah ada. “Hal ini terlihat ketika saya diundang oleh berbagai komunitas sastra di daerah-daerah di seluruh pelosok Indonesia. Gairah penciptaan dan apresiasi terhadap karya sastra dari hari ke hari menunjukkan peningkatan.” ucapnya.

Tentang gairah aktivitas sastra di daerah, dibenarkan oleh Marwanto, koordinator Komunitas Lumbung Aksara yang menjadi moderator acara ‘Tadarus Puisi’. Menurutnya, “Gerakan untuk mencintai dan mencipta sastra tugas mulia yang mesti kita sempaikan di berbagai penjuru daerah. Sejalan dengan misi tersebut, maka komunitas Lumbung Aksara hadir untuk menggairahkan aktivitas sastra di Kulonprogo. Komunitas kami sangat berharap bisa menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas lain baik yang ada di Kulonprogo maupun daerah lain untuk membangun jaringan sastra yang lebih luas dan solid,” ucapnya Marwanto.

Marwanto juga menam-bahkan, di zaman yang serba pragmatis dan materialistis ini kehadiran sastra justru sangat dibutuhkan. “Kehadiran sastra sangat dibutuhkan guna mengimbangi laju peradaban yang akhir-akhir ini didominasi gerak masif ekonomi dan teknologi agar perubahan-perubahan yang terjadi bisa membawa kehidupan manusia lebih beradab,” katanya.

Gambaran tentang negeri beradab dengan banyaknya media massa yang berisi karya-karya sastra juga sangat diimpikan oleh Aguk Irawan MN, alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Pernyataan Aguk tersebut diamini Didik L Hariri, penyair sufistik yang pernah mengembara di Timur Tengah awal 1990-an. Penyair yang sedang turba ke daerah-daerah ini menambahkan, di Mesir profesi sebagai penulis bisa mendatangkan kekayaan, sebab pemerintah sangat apresiatif terhadap karya penulis. (Jay)-c. (Sumber, Kedaulatan Rakyat, 4 Nopember 2006)

Buletin Garapan Komunitas LA:
LONTAR Populerkan Kulonprogo

KULONPROGO (KR) - Komunitas sastra di Kulonprogo, yakni Komunitas Lumbung Aksara meluncurkan buletin ‘Lontar’, akhir tahun 2006. Hadir dalam peluncuran sekaligus sebagai narasumber diskusi dua sastrawan senior, Soegiyono MS dan Drs Pribadi, dihadiri anak-anak Ajar Sastra Kulonprogo (ASK), san-tri dan pengasuh Pesantren Zahrotul Jannah Wates dan penyair muda Lumbung Aksara yang beberapa waktu lalu menerbitkan antologi puisi ‘Seorang Gadis Sesobek Indonesia’ .

Dua sastrawan Kulonprogo menyambut baik terbitnya buletin sastra. Menurut Soegiyono MS, komunitas dan buletin seperti ini (Lontar) bisa mempopulerkan nama Kulonprogo di pentas sastra nasional. Lebih lanjut, sastrawan yang pernah mendapat penghargaan bupati sebagai ‘Penjaga Sastra Jawa’ itu mengatakan, para sastrawan muda jangan sungkan bertukar pengalaman dengan seniornya. Tapi ingat, jadilah diri sendiri jangan bermimpi jadi Soegiyono MS atau Pribadi jilid kedua. Pandangan lain, Drs Pribadi, penyair Kulonprogo yang di tahun 1980-an menggunakan nama pena Enes Pribadi atau Papi Sadewa. Ia melihat ada kecerahan pada sastrawan muda Kulonprogo. “Pada karya mereka saya lihat basic moral yang kuat. Ini yang akan melandasi gerak mereka ke depan, menggantikan kami yang tua-tua,” kata penyair juga guru SMAN 1 Wates.

Marwanto, Koordinator Lumbung Aksara mengatakan, terbitnya buletin ‘Lontar’ untuk menampung karya tulis (sastra) masyarakat Kulonprogo. “Kami ingin menggelorakan tradisi membaca dan menulis di kalangan sastrawan dan masyarakat. Kini kami telah punya wadah konkret, yakni buletin Lontar.” ucapnya. Ia mengatakan, isi, layout, jumlah halaman masih akan terus mengalami penyempurnaan. (Jay)-o (sumber Kedaulatan Rakyat, 4 Januari 2007).

Sanggar Baca Perlu Perhatian
WATES (KR)- Keberadaan sanggar atau komunitas baca yang ada di kalangan masyarakat Kabupaten Kulonprogo sudah waktunya mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Sebab eksistensi mereka sangat penting untuk menunjang memperkuat tradisi membaca, terlebih bisa mencerdaskan anak bangsa dan generasi negeri ini.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Perpustakaan Umum Daerah Kulonprogo Drs Heruntoro ketika menerima Komunitas Lumbung Aksara (KLA), kemarin. Hadir dalam audiensi Koordinator Komunitas Lumbung Aksara Marwanto SSos didampingi anggota Aris Zurkhansah SPdI, Maftukhatul Khoiriyah SIP, Siti Masitoh, Asti Widakto, Samsul Maarif, dan Akhiriyati Sundari SPdI. KLA berdiri Mei 2006 dengan visi mencerdaskan kehidupan bangsa dengan penguatan tradisi membaca dan menulis.

Audiensi dengan Kepala Perpustakaan itu dalam rangka melaporkan kegiatan mereka sekaligus memperjuangkan anggaran bagi komunitas/kelompok baca dan tulis agar diserap oleh APBD. Salah satu kegiatan adalah keikutsertaannya pada lomba Jambore Reading Club (JRC) tingkat propinsi beberapa waktu lalu yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Daerah DIY. Komunitas Lumbung Aksara yang mewakili Kulonprogo berhasil meraih juara pertama dengan mengalahkan kelompok baca Karang Taruna ‘Wira Muda’ Sleman (juara kedua) dan kelompok baca ‘Paprika’Yogyakarta (juara ketiga).

Disamping itu KLA juga melakukan kegiatan penerbitan buletin sastra ‘Lontar’. Buletin ini ternyata mendapat tanggapan antusias dari masyarakat, terutama pelajar dan mahasiswa. Di beberapa tempat yang kami distribusi seperti perpustakaan, warnet, sekolah ataupun ponpes selalu habis.

Tidak hanya itu, kami selalu mendapat feedback tentang keinginan pembaca untuk mengirimkan karyanya agar dimuat di ‘Lontar’, kata Pemimpin Umum ‘Lontar’ Siti Masitoh. (Wid)-d (Kedaulatan Rakyat, 31 Januari 2007)

1 TAHUN KOMUNITAS LUMBUNG AKSARA;
Istiqomah Menyemai Sastra Kulonprogo

KULONPROGO (KR) - Komunitas 'Lumbung Aksara' (LA) merayakan ulang tahun ke-1. Peringatan tersebut dikemas dalam sebuah perhelatan bertajuk 'Tadarus Puisi' di kompleks Taman Binangun Kulonprogo, belum lama ini. Kegiatan dimeriahkan pembacaan puisi oleh penyair-penyair muda Kulonprogo serta diskusi narasumber Aguk Irawan MN (alumni Universitas Al-Azhar Kairo) serta Salman Rusydi Anwar (Sanggar Kutub Yogyakarta).

Dalam paparannya, Aguk Irawan merasa salut atas perjuangan LA menggelorakan kegiatan sastra di Kulonprogo. "Tak banyak lho orang yang mau nguri-uri kehidupan sastra di wilayah pinggiran," kata penulis novel 'Kitab Dusta dari Surga' terbitan Pilar Media. Senada dengan Aguk, Salman Rusydi mengharapkan komunitas sastra di pinggiran mampu menjalin kerja sama dengan komunitas sastra yang relatif berada di 'pusat' seperti Sanggar Kutub, Rumah Poetika, atau Rumahlebah.

Sementara koordinator komunitas LA, Marwanto menjelaskan, program rutin bulanan LA sekarang ini ada tiga, yakni penerbitan buletin sastra Lontar, Tadarus Puisi dan bedah buku sastra. Sedang program tahunan: Pembelajaran Menulis Kreatif (PMK) dan lomba cipta karya sastra. Untuk tahun ini program PMK akan dilangsungkan tangggal 7-8 Juli sementara lomba cipta sastra (tahun ini lomba penulisan cerpen tematik) akan berlangsung September. LA juga akan mengikuti Pasar Seni (Dapur Kreatif Komunitas Sastra) atas undangan Divisi Sastra FKY XIX 2007.

Di samping itu, mulai Februari lalu komunitas LA juga merintis berdirinya Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Menurut Marwanto, rencananya LA akan merintis empat TBM di wilayah pinggiran Kulonprogo sebagai alternatif Perpustakaan Daerah yang letaknya di jantung kota Wates. "Pokoknya, aktivitas yang berkaitan dengan semboyan komunitas LA, yakni Membaca-Menulis, Menjaga Hidup, akan kami garap," ungkap lulusan UNS ini. (Jay)-z (Sumber Kedaulatan Rakyat, 2 Juni 2007)